Dec 09 2008
Korban Perasaan
Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat Idul Adha bagi teman-teman semua yang merayakannya. Dan juga ucapan selamat yang paling dalam saya ucapkan bagi Anda yang kemarin telah ikut berkurban, baik kurban kambing, sapi atau korban perasaan. Semoga semua amal kebaikan diterima dan akan menjadi bantuan kendaraan untuk kita di padang masyar kelak. Amin
Idul Adha identik sembelih dan disembelihnya hewan kurban ( bagi saya sih identik dengan satenya haha). Yak hal ini sebenarnya tidak usah saya bicarakan lebih lanjut sebab Anda semua pasti sudah mengerti. Yang paling ingin saya soroti bukanlah tentang satenya teman-teman. Akan tetapi tentang harga kambingnya yang melambung tinggi.Berapa sih harga kambing yang dijual pada hari-hari biasa. Hmm sekitar 600-800 ribu, akan tetapi coba Anda tanya-tanya sama orang-orang yang menjual kambing yang pas di waktu hari raya kurban. Coba berapa harganya? sekitar 1 jutaan. Hmm mungkin harga segitu tidak berarti bagi anda yang berpenghasilan besar, yang tentu mempunyai penghasilan diatas 1 jutaan.
Dan yang paling ngenes (baca: sengsara) adalah orang-orang seperti tukang becak atau katakanlah orang yang berpenghasilan dibawah 1 juta. Tapi ping kan Idul Adha cuma 1 kali dalam setahun? yah itu memang benar. Tentu mereka bisa menabung jika ingin berkurban kan. Akan tetapi kenyataan berkata lain, bisa kita lihat dengan naiknya harga barang-barang kebutuhan sehari-hari dan semakin banyaknya hutang, tentu menyulitkan mereka yang ingin menabung untuk berkurban tentunya.
Pernah lihat iklan di TV yang jalan ceritanya dimulai dari seorang ibu-ibu yang mengeluh kepada suaminya karena tidak bisa berkurban? Dari keluhan istrinya akhirnya suaminya berpikir untuk menabung uang untuk membeli rokok yang akan ditabung guna dibelikan kambing untuk kurban. Hmm sungguh perbuatan yang sangat mulia. Akan tetapi masalahnya adalah bisakah kita seperti iklan tersebut?
Sulit. Yah semua itu memang tidak ada yang mudah. Apalagi dengan semakin melonjaknya kurs dollar terhadap rupiah. Tentu hal ini tidak akan saya ceritakan lebih detil karena memang tidak ada hubungannya sama sekali dengan tulisan saya yang diatas. hehe
Yups. Solusi yang saya tawarkan untuk mengatasi harga kambing yang semakin tinggi adalah ” Pelihara kambing sendiri “. Punya kambing sendiri dan lalu kita korbankan. Akan tetapi siapa yang mau susah payah melakukan seperti itu? kalau di kota sih ga ada. Kalau di desa sih ada banyak. Yah cuma solusi gila yang memang tidak perlu diperhatikan.
Solusi lainnya, adalah mencari alternatif pengganti kambing untuk di korbankan. Contohnya apa? ya apa sajalah yang ada di sekitar kita misalnya saja ayam, angsa, unta, kuda atau apa sajalah yang kiranya bisa dikorbankan. Hal yang paling penting kan niat-nya, iya kan?
Lalu bagaimana dengan Anda, sudahkah Anda berkurban?






Selamat datang di Blog saya, perkenalkan nama saya Aping. Saya adalah owner Blog ini. Silahkan baca-baca dan jangan lupa komentar ya jeh! 


tapi ping,,, klo d’sby gini mw melihara kambing dimana????
d’belakang humzq gak da rumput, mw makan apa para kambing yg akan q pelihara…….
hmmm sampeyan bener saudara… Memang hakikat Idhul adha tepatnya berkurban adalah bukan sekedar berkurban terus selesai. Berkurban di sini berkurban sepenuhnya.. dan Ikhlas…. Betul tidak saudara… dan berkorban yang paling berat adalah berkorban perasaan.
Kalo saya di suruh melihara kambing sendiri kayaknya gak sanggup… Mungkin dengan do’a dari saudara kelak saya bisa membeli kambing sendiri untuk kurban… Amien…
Berkurban tidak harus besar… Mari berkurban dari hal terkecil dalam diri kita…..
alhamdulillah
tapi ya itu jatahnya
ada yg berkurban ada yg nerima kurban hjehehe
berkurban bagi yang mampu, ngak usah dipaksakan, ntar malah dengan cara2 yang ngak halal
Sepakat dengan mas Arul, kurban bagi yang mampu..
Tpi kita semua jga bisa berkurban, yakni dengan memgorbankan hawa nafsu..
TOSS sama mas aRuL, kalo ndak salah, kalo kita mau berkorban saat idul adha itu kan kalo nggak unta, sapi, ato kambing… korban ayam mah kalo g salah kan g ada d dalam Al-Quran. Apalagi korban perasaan sama hawa nafsu…
kikikikikikikikiki =))